26 Februari 2009

Sedekah Yuk...


KITA YANG BUTUH SEDEKAH



Selama ini kita pikir, kalo kita bersedekah, maka orang lain lah yang butuh sedekah kita. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa kita lah yang butuh bersedekah? Bukan mereka? Kenapa? Karena jawabannya adalah dengan sedekah selain harta kita menjadi suci, sedekah pun punya banyak kelebihan/fadilah yang lain.

Di antaranya mendatangkan rizki lebih banyak, menolak bala, menyembuhkan penyakit, memperpanjang umur, dan lain sebagainya. Alkisah, ada seorang supir yang datang ke seorang kyai. Supir ini meminta nasihat kepada kyai amalan apa yang bisa membuat rizkinya bertambah. Maksud sang supir, dia minta semacam zikir dan wirid kepada kyai. Sang kyai malah memintanya bersedekah. Supir tersebut protes, dia bilang, “Ada juga yang butuh sedekah, saya Pak Kyai. Karena saya hidup selalu dalam kekurangan.” Dia cerita, bahwa gajinya 800 ribu rupiah. Dengan anak lima, dan semuanya sekolah, gaji segitu menjadi berat. Apalagi dia tinggal di kota besar, Jakarta. Di mana semua kebutuhan, mahal. Kyai tersenyum, “Kalau Bapak memposisikan sebagai penerima sedekah, maka posisi Bapak tidak akan diangkat oleh Allah. Kalau mau kaya, ya ambil posisi yang mengeluarkan sedekah.

Kalau mau cukup, ya justru harus banyak sedekah. Banyak yang bersedekah menunggu cukup. Akhirnya, karena tidak cukup-cukup, ya akhirnya tidak bersedekah-sedekah. Dan walhasil, tidak pernah dicukupkan Allah. Sudah, keluarkan saja sedekah. Jangan banyak mikir. Katanya mau dicukupkan Allah. Nah, caranya sekali lagi ya bersedekah.” Akhirnya, supir tersebut bersedekah. Kebetulan dia bawa uang 100 ribu. Uang tersebut dititipkan ke kyai tersebut untuk disalurkan.


dari : http://alazharpeduli.wordpress.com/

13 Februari 2009

Pelatihan Blog

Ngeblog Yuuk...

Foto-foto saat menjadi Trainer Pelatihan Blog bersama Reynal Falah, S.Psi
kegiatan ini diadakan oleh : LAZ Al-Azhar Peduli Ummat Solo Baru
tanggal 8 Februari 2009 di Javatechno Surakarta. Pesertanya LUAR BIASA!!
bersemangat sehingga lupa waktu, hehe....

Peserta Blog...
















Peace...
















Ngalamun Tuh...
















Serius Ngeblog...





















Si Imoeth bergaya...
















Itu Gini Lho...
















Tetap Semangat ya...














05 Februari 2009

Puncak Lawu



PENDAKIAN PUNCAK LAWU 1 JANUARI 2009


Mendaki gunung ternyata mengasyikkan, selain bisa mensyukuri karuniaNya ternyata banyak hikmah yang bisa dipetik. Di antaranya bahwa kesuksesan menuju puncak dibutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Fisik dan Mental yang kuat, penguasaan medan yang akurat, pengetahuan tentang wilayah sekitar dll.

Cuplikan Foto Video : Pendakian Puncak Lawu 2009


04 Februari 2009

Surat Cinta

Surat Cinta

Ini hanya sebentuk perasaan yang hadir bersama heningnya malam, setelah pertemuan dengan seorang gadis manis yang mempesona.


03 Februari 2009

Tuhan Bingung ?

Syahdan di suatu hari Tuhan berkata pada malaikat, “Hai malaikat, tidakkah kau tahu bahwa hambaKu setiap hari selalu mencariku tetapi bukan untuk mengenalKu melainkan karena Aku dipaksa-paksa dan diatur-atur mereka untuk memenuhi hajat hidupnya. Di dalam hati mereka selalu bunyi : semoga ini semoga itu, sesuai dengan selera mereka. Bahkan ada yang menggedor-gedor pintuKu memaksaKu untuk mengabulkan doanya, yang lebih parah ada yang menggugat kemahaanKu karena keinginan mereka tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.”

“Terus bagaimana ya Tuhan ?”

“Aku ingin bersembunyi malaikatKu, tapi aku bingung akan kemana bersembunyi di mana ?”

“Bersembunyi saja di gunung yang tertinggi, pasti hambaMu tidak akan bisa menemukanMu.”

“Itu dulu malaikat, sekarang teknologi mereka sudah bisa mencapai puncak gunung yang paling tinggi sekalipun.”

“Kalau begitu Engku bersembunyi saja di dasar laut yang terdalam, pasti hambaMu tidak akan bisa menemukanMu.”

“Itu juga dulu malaikat, sekarang teknologi mereka sudah bisa mencapai dasar laut yang paling dalam sekalipun.”

“Kalau masih ketahuan, bersembunyi sajalah di Bulan jangan di Bumi, pasti di tempat yang ini hambaMu tidak akan bisa menemukanMu.”

“Itu juga dulu malaikat, sekarang teknologi mereka sudah bisa mencapai Bulan.”

“Saya yakin di tempat yang satu ini mereka tidak bisa menemukanmu.”

“Di mana itu malaikatKu ?”

“Ya... di hati hambaMu sendiri Tuhanku.”

“Aha.. kurasa engkau benar MalaikatKu, Aku akan bersembunyi di dalam hati hambaKu, niscaya akan jarang sekali yang bisa menemukanKu. Karena biasanya mereka mencariKu di luar diri mereka.”

Itulah sepenggal kisah berhikmah yang dituturkan oleh salah satu jamaah masjid dekat rumah, ketika bertugas memberikan kultum di hari terakhir Ramadhan kemarin. Silakan dicari sendiri hikmahnya, silahkan dilihat sendiri posisi diri kita masing-masing dari kisah berhikmah tersebut.

02 Februari 2009

Mangkuk Tak Beralas



Mangkuk Tak Beralas


Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis ini : "Apa yang engkau inginkan dari dariku?" Si pengemis itu tersenyum dan berkata: "Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba". Sang raja terkejut, ia merasa tertantang: "Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!" Maka menjawablah sang pengemis: "Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa."

Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. "Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya". Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah: "Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan". Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan' pengemis dihadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis.

Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah. Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang. Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis yang bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya : "Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?"

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum: "Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan : power tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak. Raja itu bertanya lagi : "Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?" Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT. Jika engkau pandai bersyukur, Allah akan menambah nikmat padamu Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang dari mata khalayak. [ dari QS Ibrahiim; 14:7 ]

Butuh Allah


Merasa Butuh Allah SWT


Pada tulisan terdahulu yaitu Tentang DOA, Syekh Abu al-Abbas al-Mursi menyampaikan bahwa sebenarnya manusia itu selalu membutuhkan Allah baik di dunia maupun di akhirat sebagai hakikat kehambaannya tanpa melalui sebab-sebab tertentu. Hanya saja kebanyakan manusia baru merasa butuh Allah jika sudah ada sebab-sebab tertentu dan ketika sebab itu hilang maka akan hilang juga rasa butuhnya kepada Allah. Padahal salah satu kunci dikabulkannya suatu doa adalah selalu merasa butuh.

Masalahnya adalah bagaimana kita bisa mengondisikan hati kita untuk terus merasa butuh kepada Allah. Kemarin pun saya juga masih belum paham bagaimana caranya melatih hal itu, tapi alhamdulillah tiba-tiba saja ada pemahaman baru yang sementara ini bagi saya yang awam bisa menerimanya secara sederhana dan semoga kesadaran ini bisa terpatri dalam hati. Tiba-tiba saja terlintas kalimat yang sering kita baca yaitu : "Laa haula walaa quwwata illaa illaahil'aliyyil'adzhim." (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung). Dalam pemahaman saya, berarti kita itu NOL, tidak punya daya dan kekuatan bagai sesosok jazad tak bernyawa.

Siapa bisa menjamin besok pagi ketika bangun tidur, kita masih bisa menggerakkan tubuh kita ? Siapa bisa menjamin satu jam ke depan kita masih segar bugar ? Siapa bisa menjamin nanti masih tergerak hati kita untuk sholat ? Kalau toh kita bisa beraktivitas dalam keseharian karena kondisi tubuh kita yang sehat, dari mana sebenarnya kesehatan itu berasal ? Kalau toh kita berargumen bahwa tubuh kita sehat karena kita menerapkan pola hidup sehat dengan pola konsumsi makanan yang sehat, istirahat dan olah raga yang teratur, maka dari mana niatan atau kesadaran untuk berpola hidup sehat itu muncul. Beranikah kita mengklaim bahwa niatan atau kesadaran itu muncul karena kehendak atau kekuatan kita sendiri ? Atau ketika kita ringan dalam menjalankan ibadah kita, beranikah kita untuk juga mengklaim itu atas kekuatan kita sendiri atau lebih jauh beranikah kita memastikan di akhir hidup kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah ?

Sungguh, dalam setiap detik kehidupan kita tidak pernah lepas dari pengaturan Allah, karena sebenarnya kita itu faqir di hadapan Allah, sehingga kita semua sangat-sangat tergantung pada Allah, sangat-sangat butuh kepada Allah. Di dalam setiap gerak dan langkah kita, di dalam setiap tarikan dan hembusan napas kita, di dalam setiap detak jantung kita, di dalam setiap dzikir dan pikir kita, Allah-lah yang sejatinya menggerakkan dan memberi kita kekuatan.

Untuk itu dalam setiap kegiatan, kita awali dengan bacaan bismillah dan bersamaan dengan itu mari kita sama-sama belajar menggerakkan kesadaran hati kita untuk meng-NOL-kan diri kita agar bersamaan dengan itu pula kita selalu mengharapkan pertolongan Allah. Dalam setiap apa pun juga saya biasakan mohon kemudahan dari Allah : Mudahkan Yaa Allah – Mudahkan Yaa Allah. Insya Allah kita akan selalu diberikan kemudahan, sesulit apa pun situasi yang harus kita hadapi.

Semoga Allah mengangkat kita semua pada derajad hamba-hambaNya yang selalau merasa membutuhkan-Nya. Aamiin.